Pagi itu, beberapa perempuan tampak sibuk mengelilingi meja sederhana di Dusun Baturoko, Desa Lalombi. Di hadapan mereka tersusun buah-buah mangrove yang baru dipanen dari kawasan pesisir desa. Tangan-tangan yang sehari-hari akrab dengan pekerjaan rumah tangga dan aktivitas keluarga nelayan kini dengan telaten mengolah buah mangrove menjadi bahan pangan yang memiliki nilai ekonomi.
Sesekali terdengar tawa dan percakapan ringan di antara peserta pelatihan. Namun di balik suasana yang hangat itu, tersimpan harapan besar tentang masa depan yang lebih baik bagi keluarga dan lingkungan tempat mereka hidup.

Salah satunya datang dari Nurain (38), seorang perempuan pesisir yang mengikuti Pelatihan Olahan Buah Mangrove yang difasilitasi Yayasan Bonebula bersama Kelompok SALAMA (Sahabat Laut dan Mangrove).
Bagi Nurain, mangrove bukanlah sesuatu yang asing. Sejak kecil ia hidup berdampingan dengan hutan mangrove yang membentang di pesisir Desa Lalombi. Ia memahami bagaimana akar-akar mangrove melindungi pantai dari abrasi dan menjadi tempat berkembang biaknya berbagai jenis ikan dan biota laut yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Namun, baru kali ini ia mengetahui bahwa buah mangrove dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual.
“Selama ini kami tahu mangrove penting untuk menjaga pantai dan menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan dan biota laut. Namun, saya baru mengetahui bahwa buah mangrove juga bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual,” kata Nurainun.
Pengetahuan baru itu membuka cara pandang berbeda terhadap mangrove. Bagi Nurainun dan perempuan lainnya, mangrove tidak hanya berfungsi sebagai pelindung pesisir, tetapi juga menyimpan peluang ekonomi yang dapat membantu menopang kebutuhan keluarga.
“Pelatihan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan baru bagi kami. Harapannya, ilmu yang diperoleh dapat menjadi peluang usaha bagi perempuan di desa sekaligus mendorong kami untuk semakin menjaga kelestarian mangrove,” lanjutnya.
Menjaga Mangrove dengan Memberinya Nilai
Di Desa Lalombi, kehidupan masyarakat tidak bisa dipisahkan dari laut dan kawasan pesisir. Hutan mangrove menjadi bagian penting dari ruang hidup masyarakat. Ia melindungi pantai dari hempasan gelombang, menjadi tempat pembesaran ikan dan kepiting, sekaligus membantu menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Namun seperti banyak wilayah pesisir lainnya, keberadaan mangrove juga menghadapi berbagai tantangan. Tekanan pembangunan, perubahan penggunaan lahan, hingga minimnya pemahaman tentang nilai ekonomi dan ekologis mangrove menjadi ancaman yang terus mengintai.
Menurut Direktur Eksekutif Yayasan Bonebula, Andi Anwar, konservasi tidak akan berjalan efektif jika masyarakat tidak memperoleh manfaat nyata dari sumber daya yang mereka jaga.
“Konservasi tidak cukup hanya berbicara tentang perlindungan kawasan. Masyarakat harus merasakan manfaat langsung dari ekosistem yang mereka jaga. Ketika mangrove memberikan nilai ekonomi bagi keluarga, maka kesadaran untuk melindunginya akan tumbuh lebih kuat,” ujarnya.
Pandangan inilah yang menjadi dasar pendekatan Yayasan Bonebula dalam mendampingi masyarakat pesisir. Alih-alih memisahkan antara pelestarian lingkungan dan kebutuhan ekonomi, keduanya justru dipertemukan dalam satu upaya yang saling menguatkan.
Melalui pelatihan pengolahan buah mangrove, perempuan pesisir didorong untuk memanfaatkan sumber daya lokal secara lestari tanpa merusak fungsi ekologis kawasan. Pendekatan ini tidak hanya membuka peluang usaha baru, tetapi juga membangun kesadaran bahwa mangrove yang sehat adalah investasi jangka panjang bagi kehidupan masyarakat pesisir.
Perempuan di Garis Depan
Di banyak komunitas pesisir, perempuan sering menjadi kelompok yang paling dekat dengan pengelolaan kebutuhan keluarga. Mereka mengatur pengeluaran rumah tangga, memastikan kebutuhan pangan terpenuhi, sekaligus menjadi penjaga pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Meski demikian, peran mereka kerap luput dari perhatian dalam berbagai program pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam.
Karena itu, pelatihan yang melibatkan Kelompok SALAMA ini menempatkan perempuan sebagai aktor utama perubahan. Tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai penggerak ekonomi sekaligus penjaga keberlanjutan lingkungan.
Bagi anggota SALAMA, penguatan ekonomi masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya perlindungan mangrove. Ketika masyarakat memperoleh manfaat nyata dari ekosistem yang mereka jaga, maka kepedulian terhadap lingkungan akan tumbuh secara alami.
Mereka percaya bahwa menjaga mangrove bukan hanya soal melindungi pohon-pohon di pesisir. Lebih dari itu, menjaga mangrove berarti menjaga ruang hidup, sumber penghidupan, dan masa depan anak-anak yang akan mewarisi kawasan pesisir tersebut.
Kolaborasi untuk Masa Depan Pesisir
Upaya penguatan perempuan pesisir di Desa Lalombi tidak berjalan sendiri. Kegiatan ini mendapat dukungan Program Lokadaya yang dikelola oleh Penabulu sebagai bagian dari upaya memperkuat inisiatif masyarakat sipil dan komunitas lokal dalam mendorong pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi tersebut, Yayasan Bonebula terus mendorong lahirnya praktik-praktik pengelolaan sumber daya alam yang mampu menghadirkan manfaat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata bagi masyarakat pesisir, penguatan kapasitas perempuan menjadi salah satu kunci membangun ketahanan komunitas. Sebab ketika perempuan memiliki akses terhadap pengetahuan, keterampilan, dan peluang ekonomi, mereka tidak hanya memperkuat kesejahteraan keluarga, tetapi juga menjadi penjaga masa depan lingkungan tempat mereka hidup.
Sore mulai turun di pesisir Lalombi. Aktivitas pelatihan hari itu perlahan usai. Namun bagi Nurainun dan perempuan-perempuan lainnya, pelajaran yang mereka bawa pulang jauh lebih besar daripada sekadar keterampilan mengolah buah mangrove.
Di tangan mereka, mangrove kini bukan hanya pohon yang tumbuh di tepi laut. Ia telah menjadi simbol harapan—tentang ekonomi yang lebih kuat, lingkungan yang tetap lestari, dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat pesisir.








