Yayasan Bonebula Bersama Mitra Strategis Perkuat Komitmen Pelestarian Pesisir Melalui Pelepasan Tukik dan Penanaman Mangrove di Donggala

Yayasan Bonebula bersama Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulawesi Tengah, Pemerintah Kabupaten Donggala, serta berbagai pemangku kepentingan melaksanakan kegiatan pelepasan tukik dan penanaman mangrove di Pantai Lalombi, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif dalam mendukung pelestarian ekosistem pesisir dan laut Sulawesi Tengah, sekaligus memperkuat kesadaran publik mengenai pentingnya perlindungan habitat penyu dan kawasan mangrove sebagai penyangga kehidupan masyarakat pesisir.

Selain menjadi momentum konservasi lingkungan, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Hari Lahir Kejaksaan Republik Indonesia, Hari Konservasi Internasional, dan Hari Ulang Tahun Kabupaten Donggala.

Direktur Yayasan Bonebula, Andi Anwar, menyampaikan bahwa pelestarian pesisir membutuhkan kerja sama yang berkelanjutan antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat lokal.

“Pelepasan tukik dan penanaman mangrove bukan sekadar kegiatan seremonial. Ini adalah bentuk komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat dan masa depan generasi mendatang. Melalui Program Balai Belajar Pesisir, Yayasan Bonebula terus mendorong pendidikan lingkungan, konservasi berbasis masyarakat, dan penguatan kearifan lokal sebagai fondasi pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan,” ujar Andi Anwar.

Selama beberapa tahun terakhir, Yayasan Bonebula secara konsisten mendukung upaya perlindungan penyu melalui edukasi masyarakat, pendampingan kelompok konservasi, serta pelepasan tukik hasil penyelamatan dan penetasan yang dilakukan bersama masyarakat pesisir. Program ini bertujuan meningkatkan peluang hidup penyu yang merupakan salah satu spesies penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Dalam kegiatan tersebut, ratusan peserta dari unsur pemerintah, aparat penegak hukum, organisasi kemasyarakatan, komunitas lingkungan, pelajar, dan masyarakat setempat turut ambil bagian dalam aksi penanaman mangrove. Keberadaan mangrove dinilai sangat strategis dalam mengurangi risiko abrasi pantai, menjaga kualitas lingkungan pesisir, serta menjadi habitat bagi berbagai jenis biota laut.

Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah, Nuzul Rahmat, menegaskan bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang harus didukung oleh seluruh elemen masyarakat.

“Menjaga lingkungan berarti menjaga keberlangsungan kehidupan. Kolaborasi seperti ini perlu terus diperkuat agar upaya konservasi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PSMTI Sulawesi Tengah, Wijaya Chandra, menyampaikan apresiasi atas sinergi berbagai pihak dalam pelaksanaan kegiatan konservasi tersebut.

“Kami percaya bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan kunci untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Kegiatan ini menjadi simbol kepedulian bersama terhadap lingkungan dan masa depan generasi berikutnya,” katanya.

Sebagai bentuk komitmen bersama, para peserta juga menandatangani deklarasi dukungan terhadap perlindungan ekosistem pesisir dan konservasi penyu di wilayah Sulawesi Tengah. Deklarasi tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas kolaborasi dalam berbagai program konservasi dan pemberdayaan masyarakat pesisir di masa mendatang.

Melalui kegiatan ini, Yayasan Bonebula menegaskan kembali komitmennya untuk terus mendorong upaya pelestarian lingkungan berbasis masyarakat, memperkuat literasi ekologis, serta membangun kemitraan strategis dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam Sulawesi Tengah.